Ngeri, Tradisi Khitan Wanita Ilegal di Kenya Masih Pakai Silet
http://berita-siapa.blogspot.com/2015/07/ngeri-tradisi-khitan-wanita-ilegal-di.html
Tradisi khitan atau 'Female Genital Mutilation' (FGM) di kalangan perempuan memang masih kontroversial antara menjadi kewajiban suatu adat istiadat tertentu atau berakibat buruk bagi kesehatan perempuan baik fisik dan psikis.
Di negara kita, tradisi ini memang masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Namun, sebagian besar masyarakat di Indonesia memilih untuk
tidak melakukannya terhadap perempuan. Kondisi ini justru terbalik bila dibandingkan dengan tradisi yang berlangsung di 27 negara, Benua Afrika.
Situasi ini memang telah lama berlangsung sejak zaman nenek moyang yakni sekitar abad 1991 sebelum masehi hingga saat ini. Berdasarkan atas data yang ada, terdapat 700 ribu korban perempuan yang tinggal di Eropa, 140 ribu di Inggris dan 100 ribu di Perancis. Sedangkan di Amerika Serikat, terdapat 500 ribu perempuan yang kini menderita atau terancam akan tradisi tersebut, seperti dilansir melalui Dailymail.
Di Afrika, tradisi ini dilakukan secara ilegal dengan tujuan agar perempuan dapat mengontrol hasrat seksualnya dan menjaga kehormatan keluarga. Salah satu negara yang paling terkenal dalam tradisi ini adalah Kenya. Tradisi yang dilakukan pada waktu 'Cutting Season' atau musim pemotongan ini dilaksanakan pada hari tertentu yang telah ditetapkan oleh tetua adat istiadat setempat.
Pada hari tersebut, para gadis usia anak-anak hingga remaja biasanya disarankan pergi ke suatu tempat yang sudah ditentukan dan harus menjalani praktek khitan massal secara brutal. Pemotongan alat genital pada perempuan yang biasa disebut 'Klitoris' di Kenya ini kebanyakan dipraktekkan secara ilegal tanpa obat bius. sehingga, mayoritas perempuan setelah menjalani tradisi tersebut akan mengalami trauma dan tidak dapat mengontrol emosinya.
Di Kenya, ada dua orang wanita lanjut usia yang terbiasa menjadi tukang khitan ilegal yakni Anna-Moora Ndege dan Agnes Kerubo. Keduanya mengaku telah melakukan praktek atas nama tradisi ini lebih dari 70 tahun yang lalu. Hampir sekitar 10 ribuan anak gadis yang dikirimkan ke acara khitan massal tersebut setiap tahun. Menurut mereka, zaman dulu pemotongan ini menggunakan kuku tajam sepanjang 15 cm hingga batu yang dibentuk menjadi lempengan tipis dan tajam, Namun, pada masa kini mereka berdua mengaku hanya menggunakan silet. Hiii, sungguh suatu budaya yang mengerikan. Bagaimana menurutmu soal khitan pada perempuan ini?
Di negara kita, tradisi ini memang masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Namun, sebagian besar masyarakat di Indonesia memilih untuk
tidak melakukannya terhadap perempuan. Kondisi ini justru terbalik bila dibandingkan dengan tradisi yang berlangsung di 27 negara, Benua Afrika.
Situasi ini memang telah lama berlangsung sejak zaman nenek moyang yakni sekitar abad 1991 sebelum masehi hingga saat ini. Berdasarkan atas data yang ada, terdapat 700 ribu korban perempuan yang tinggal di Eropa, 140 ribu di Inggris dan 100 ribu di Perancis. Sedangkan di Amerika Serikat, terdapat 500 ribu perempuan yang kini menderita atau terancam akan tradisi tersebut, seperti dilansir melalui Dailymail.
Di Afrika, tradisi ini dilakukan secara ilegal dengan tujuan agar perempuan dapat mengontrol hasrat seksualnya dan menjaga kehormatan keluarga. Salah satu negara yang paling terkenal dalam tradisi ini adalah Kenya. Tradisi yang dilakukan pada waktu 'Cutting Season' atau musim pemotongan ini dilaksanakan pada hari tertentu yang telah ditetapkan oleh tetua adat istiadat setempat.
Pada hari tersebut, para gadis usia anak-anak hingga remaja biasanya disarankan pergi ke suatu tempat yang sudah ditentukan dan harus menjalani praktek khitan massal secara brutal. Pemotongan alat genital pada perempuan yang biasa disebut 'Klitoris' di Kenya ini kebanyakan dipraktekkan secara ilegal tanpa obat bius. sehingga, mayoritas perempuan setelah menjalani tradisi tersebut akan mengalami trauma dan tidak dapat mengontrol emosinya.
Di Kenya, ada dua orang wanita lanjut usia yang terbiasa menjadi tukang khitan ilegal yakni Anna-Moora Ndege dan Agnes Kerubo. Keduanya mengaku telah melakukan praktek atas nama tradisi ini lebih dari 70 tahun yang lalu. Hampir sekitar 10 ribuan anak gadis yang dikirimkan ke acara khitan massal tersebut setiap tahun. Menurut mereka, zaman dulu pemotongan ini menggunakan kuku tajam sepanjang 15 cm hingga batu yang dibentuk menjadi lempengan tipis dan tajam, Namun, pada masa kini mereka berdua mengaku hanya menggunakan silet. Hiii, sungguh suatu budaya yang mengerikan. Bagaimana menurutmu soal khitan pada perempuan ini?

